
Beberapa tahun terakhir, banyak brand dan agency di Indonesia mulai merasakan penurunan efektivitas iklan digital (paid ads). Alasannya sederhana: audiens semakin pintar, kompetisi makin tinggi, dan biaya iklan terus naik.
Beberapa faktor penyebabnya:
- Ad fatigue (kelelahan iklan): audiens terlalu sering melihat format dan pesan yang sama.
- Kenaikan biaya akuisisi: di musim promosi, harga iklan bisa naik drastis tanpa jaminan hasil.
- Konversi yang tidak berkelanjutan: klik tidak berarti loyalitas.
- Pesan yang terlalu “jualan”: konsumen kini lebih suka brand yang punya cerita, bukan sekadar promo.
Menurut Taboola Marketing Hub, semakin banyak bisnis digital global yang mencari cara baru untuk mempertahankan ROI tanpa harus terus “membakar” budget iklan.
Oleh karena itu, brand engagement kini jadi pondasi utama dalam strategi marketing modern. Ketika iklan hanya mampu menarik perhatian sementara, engagement menjaga hubungan jangka panjang.
Mengapa engagement penting?
- Membangun kepercayaan (trust): konsumen lebih percaya pada rekomendasi teman, kreator, dan ulasan asli.
- Memperkuat identitas brand: storytelling membantu audiens mengenal nilai dan karakter merek.
- Meningkatkan customer retention: pelanggan yang merasa dekat dengan brand lebih sering repeat order.
- Mendorong word-of-mouth: konten yang engaging bisa menyebar secara organik tanpa biaya tambahan.
Dengan kata lain, engagement bukan sekadar “tambahan estetika”, tetapi investasi jangka panjang dalam loyalitas pelanggan.
Lalu strategi seperti apa yang dapat membuat marketing menjadi lebih “engaging”?
- Content Storytelling
Storytelling membangun emotional connection membuat audiens merasa jadi bagian dari perjalanan brand. Contoh nya, ceritakan kisah di balik brand: bagaimana produk lahir, siapa yang membuatnya, dan nilai apa yang dibawa.
- UGC (User-Generated Content)
UGC seperti review, testimoni, atau video dari pengguna nyata menciptakan social proof yang kuat. Bahkan menurut riset Nielsen, 92% konsumen lebih percaya rekomendasi dari orang lain dibanding iklan langsung.
- Affiliate & Creator Marketing
Creator marketing kini bukan hanya tren, tapi strategi inti. Bekerja sama dengan kreator mikro dan nano influencer memberi brand dua keuntungan, yaitu konten yang terasa lebih autentik dan distem affiliate (berbasis komisi penjualan) memastikan kolaborasi yang lebih jujur dan efisien.
- Social Proof
Jangan remehkan kekuatan bukti sosial: review pelanggan, rating, atau liputan media. Semua ini membangun kredibilitas dan mengurangi keraguan calon pembeli.
Sebagai agensi digital marketing, tentunya ICES menerapkan pendekatan multi-channel marketing yang berfokus pada sinergi antara paid dan organic. Pendekatan ini mencakup integrasi antara:
- TikTok: untuk storytelling dan UGC.
- Instagram: untuk visual branding dan engagement harian.
- Affiliate & Creator Network: untuk memperluas jangkauan audiens.
- Live Commerce: untuk mendorong konversi real-time.
Hasilnya, bukan hanya lebih hemat biaya, tapi juga menciptakan “ekosistem engagement” di mana audiens tidak hanya melihat iklan, tapi berinteraksi dengan brand.
Kini bukan lagi soal berapa besar budget iklan, tapi seberapa dalam koneksi brand dengan audiens. Performance marketing tetap penting, tetapi tanpa dukungan engagement, creator marketing, dan social proof, hasilnya hanya sementara. Brand yang mampu membangun hubungan jangka panjang akan memiliki keuntungan yang jauh lebih berharga: kepercayaan, loyalitas, dan komunitas.